Tone of Voice untuk Tulisan & Copywriting Menggigit (+Contoh)

Aicha Mahavikri

Aicha Mahavikri

Copywriter, word nerd, & SEO enthusiast
Tone-of-Voice-dalam-Copywriting

Bagikan artikel ini & sebarkan ilmu bermanfaat

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on pinterest
Share on email
3.3 3 votes
Article Rating

Tone of voice adalah cara suatu brand mengekspresikan diri mereka dengan kata-kata, perilaku, maupun gaya berinteraksi untuk menarik konsumen dan meningkatkan sales. Berikut ini adalah cara Anda menemukan tone of voice.

Tone-of-Voice-dalam-Copywriting

Menggunakan tone of voice yang tepat dalam copywriting membuat pesan Anda dibaca oleh audiens.

Coba ingat-ingat. Berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk duduk di depan laptop dengan pena dan kertas di tangan, dan mencoba menyusun kata-kata iklan?

Mungkin, Anda kesulitan mencari gaya bahasa yang pas dalam memasarkan produk Anda di Internet.

Mungkin, Anda adalah tipe seller atau business(wo)man yang tidak mempedulikan cara Anda berinteraksi dengan prospect atau buyer.

Bisa jadi, cara Anda menentukan tone of voice copywriting adalah dengan mengikuti alir mengalir.

Yaitu sedang mood apa, maka itulah cara Anda memasarkan produk.

Tak jarang, tone of voice dipengaruhi oleh mood dan ide-ide sesaat. Hasilnya? Beberapa copywriting terkesan sedikit ngegas hinga bahkan provokatif.

Jangan salah.

Copywriting memang sebaiknya memprovokasi pembaca. Tapi, provokasi copywriting dengan tone of voice tentu bertujuan positif; seperti menekan tombol BELI, misalnya.

Salah-salah, Anda malah memprovokasi prospek untuk ribut.

Nah, mempelajari ragam tone of voice bisa membantu Anda memilih tonasi yang sesuai untuk menyuarakan produk Anda.

Apa Itu Tone of Voice?

Tone of voice adalah imajinasi pembaca ketika membaca pesan atau tulisan yang brand Anda tulis baik dalam wujud copywriting, sales letter, landing page, blog post, atau postingan media sosial.

Misalnya, jika Anda menulis ini dalam website jualan Anda…

“Selamat datang di website kami www.tokomajumapan.com. Silakan pilih produk yang Anda perlukan dengan memilih menu PRODUK.”

…maka tone of voice Anda akan terkesan formal, kaku, dan tidak menggugah.

Tapi kalau Anda menulis seperti ini…

“Heeyyy pa kabar gaes? Kamu baru aja masuk ke website akooohh. Cari produk apaaa? Hayuk cek dulu jualan akooh di menu PRODUK eaaah”

tone of voice brand Anda terdengar informal dan malah sedikit ngelawak.

Keduanya menyampaikan pesan yang sama. Yaitu ucapan selamat datang dan mengarahkan ke laman produk jika pengunjung ingin belanja.

Tapi salah satu tone of voice di atas lebih cocok digunakan untuk blog pribadi anak remaja dan tidak bisa ditayangkan di website profesional yang menjual peralatan gym.

Ada berbagai jenis tone of voice yang bisa Anda pilih untuk gunakan dalam tulisan untuk menciptakan copywriting produk Anda.

Kalau Anda kesulitan menciptakan tone of voice untuk menyuarakan produk Anda di Internet, Wordpixels Creative menyediakan layanan copywriting dengan tone of voice sesuai produk Anda.

Klik di sini dan ceritakan produk Anda pada kami, agar tone of voice yang Anda peroleh tepat sasaran.

Kenapa Tone of Voice Penting untuk Jualan?

Dalam teknik copywriting, tone of voice memegang peranan penting.

Malah, salah satu tugas seorang copywriter adalah menemukan dan menentukan tone of voice dan mengaplikasikannya agar bisa menjual.

Oleh sebab itu ketika ada brand yang mempekerjakan Wordpixels Creative, kami akan menelusuri tulisan-tulisan brand tersebut sebelumnya, dan menanyakan tone of voice apa yang belum dan sudah digunakan, serta menganalisa mana yang paling memikat hati pembaca.

Jika data tersebut tidak ada, maka kami akan berdiskusi bersama dan menentukan siapa buyer persona dan target audience produk tersebut.

Pertanyannya, kenapa tone of voice begitu penting?

Pertama, kalau Anda menciptakan tone of voice yang tepat, orang-orang akan INGIN membaca tulisan Anda.

Kedua, orang yang berinteraksi dengan tulisan Anda akan berinteraksi sesuai dengan gaya tulisan Anda (atau bahkan tak bereaksi sama sekali!)

Ketiga, Anda bakal dituntut untuk menulis terus dengan tone of voice yang konsisten sampai selesai. Jadi, kenapa tak sekalian memilih tone of voice yang akan Anda nikmati selama menulis?

Tapi, bukan berarti Anda harus menggunakan satu tone of voice selamanya.

Ada berbagai jenis tone of voice yang bisa brand Anda pakai untuk konten jualan. Tak peduli apakah Anda menulis untuk…

  • konten blog,
  • membuat brosur dokter gigi,
  • iklan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar,

…tone of voice dalam tulisan Anda bisa berubah untuk berbagai situasi.

So, mari kita bergandengan tangan (jangan gandengan beneran, ya) dan lihat contoh-contoh tone of voice berbagai brand di Indonesia.

Pelajari juga: Kalau Anda memasarkan produk Anda di Instagram, simak pembahasan saya tentang cara membuat copywriting untuk Instagram.

Tone of Voice untuk Bisnis SaaS

Kalau Anda menjalankan bisnis atau mengembangkan SaaS (Software as a service), tugas Anda mudah sekali.

Sebab, brand voice untuk bisnis SaaS cukup dengan satu hal. Yaitu, tunjukkan software Anda bekerja.

Plugin Ongkos Kirim mengeksekusi tone of voice untuk landing page mereka dengan baik. Kuncinya, dengan menunjukkan performa plugin ongkos kirim melalui video.

Demo Plugin Ongkos Kirim

Demo plugin Ongkos Kirim.

Kenapa harus repot-repot menulis kalau Anda bisa langsung menunjukkan cara kerja plugin tersebut dengan video screen-capture? Betul, tidak?

Hal kedua yang patut ditiru dari landing page satu ini adalah cara mereka menampilkan fitur software yang ditawarkan.

Fitur plugin Ongkos Kirim

Fitur plugin Ongkos Kirim.

Kebanyakan orang yang berkunjung ke landing page ini sudah memahami bahwa mereka ingin membeli plugin yang menghitung ongkos kirim dengan kurir Indonesia.

Jadi, penyedia software tidak perlu menulis panjang lebar tentang fitur yang ada.

Selain itu, plugin Ongkos Kirim juga menyediakan akses login ke dashboard WordPress bagi mereka yang ingin mencoba plugin ini secara langsung.

Oleh sebab itulah, plugin Ongkos Kirim tidak perlu menulis teks panjang kecuali di bagian FAQ yang memang bertujuan untuk meyakinkan pembeli.

Sampai sini, Anda pasti menyadari bahwa plugin Ongkos Kirim hanya memiliki tone yang sedikit. Sebab, pengunjung website ini hadir untuk membeli software, bukan untuk terpesona dengan tone of voice.

Kenapa harus repot-repot menulis betapa hebatnya plugin Ongkos Kirim kalau Anda bisa langsung tunjukkan saja?

Why bother writing if you can just show it?

Tone of Voice Perusahaan SaaS

  • Tenang dan rileks
  • Menyebutkan semua manfaat software tersebut
  • Menunjukkan demo dan cara kerja produk
Pelajari juga: Kalau ingin membuat copywriting untuk landing page seperti plugin Ongkos Kirim, hubungi Wordpixels Creative dengan klik di sini, atau pelajari caranya dengan mengikuti panduan membuat copywriting landing page ini.

Tone of Voice Curhat

Produk yang banyak menggunakan tone of voice yang dibumbui curhat bisa menyasar pria  dan wanita. Memang, wanita lebih rentan dengan curhatan dibanding pria. Namun, bukan berarti pria bisa kebal.

Untuk menggunakan tone of voice ini, Anda harus membuat tulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi. Bisa pengalaman menyesakkan, sedih, bahagia, menyesal, apa saja.

Misalnya, jika Anda ingin memasarkan produk diet berat badan, Anda mungkin ingin menilik kembali masa-masa kelam ketika (Anda pernah) mengalami masalah obesitas.

Saya sendiri seorang wanita yang kadang berkutat dengan masalah berat badan. Oleh sebab itu, saya bisa berfantasi apa jadinya jika saya bebas makan apapun tanpa khawatir penumpukan lemak.

Karena saya tahu apa yang wanita rasakan (selain karena saya sendiri wanita), maka saya gunakan teknik curhat untuk menciptakan copywriting untuk menjual produk diet.

Teknik ini banyak dijalankan oleh copywriter lain. Tapi, kadang mereka kurang ‘berani’ dalam mengungkapkan hal-hal yang kadang membuat mereka kurang nyaman.

Faktanya, hal-hal yang tak disuarakan karena tak nyaman seperti inilah yang malah terkadang bisa menjual. Sebabnya, karena pembaca merasa related.

Seperti yang saya jelaskan di awal, Anda bisa menggunakan berbagai gaya bahasa tone of voice untuk berbagai kesempatan.

Tone of Voice Curhat

  • Emosional dan menyentuh hati
  • Pembaca harus bisa merasakan rasa sakit atau permasalahan yang Anda alami
  • Anda mungkin merasa malu untuk mempublikasikan kisah tersebut
Pelajari juga: Saya pernah menulis tentang cara membuat copywriting produk skincare dan contoh copywriting produk kecantikan . Silakan simak panduan tersebut, atau hubungi kami di sini jika Anda ingin meluncurkan produk kecantikan baru atau meningkatkan penjualan skincare maupun kosmetik Anda.

Tone of Voice Curian

Tak ingin repot? Maka, ‘curi’ saja tone of voice dari industri yang Anda pilih.

Kalau Anda kesulitan mencari tone of voice untuk copywriting Anda selanjutnya, gunakan cara ini:

  1. Kunjungi ebooks.gramedia.com/ atau situs buku lainnya seperti amazon.com/books
  2. Masukkan kata kunci industri Anda dan sortir berdasarkan relevansi atau best seller
  3. Beli buku pertama dan baca, atau baca saja ringkasan atau preview buku tersebut

Dengan cara ini, Anda bisa memperoleh bayangan seperti apa orang-orang di industri tersebut menulis.

Tapi, teknik tone of voice curian ini cukup berbahaya.

Alasannya, orang yang hanya copy-paste dari orang lain tanpa menambahkan ciri khas tersendiri tidak akan bisa mencapai puncak. Dengan kata lain, copywriting produk yang copas tidak akan bisa laku!

Namun, teknik ini mampu memberi Anda insight brilian untuk menilai seperti apa mindset orang-orang yang ada di industri tersebut.

Hasilnya, Anda bisa menentukan tone of voice lebih  mudah setelah tahu seperti apa lawan bicara Anda di industri ini.

Berikut ini contohnya.

Misalnya, Anda ingin mencari tone of voice untuk saham. Maka, kunjungi Gramedia dan cek buku yang membahas tentang saham:

Gramedia Buku Saham

Daftar buku saham yang ada di Gramedia.

Kalau Anda perhatikan, kebanyakan kata-kata yang ada adalah tentang ‘analisis’, ‘teknikal’, dan ‘fundamental’. Anda tidak menemukan tone of voice yang casual pada kategori best seller.

Maka, Anda bisa menilai bahwa tone of voice industri saham adalah formal dan serius.

Artinya, jika saya ingin menjual buku tentang saham, maka saya tidak akan jualan buku dengan judul dan tone of voice yang gila seperti ini:

“Analisa Saham GILA buat Kamu yang GILA TRADING”

Meskipun judul seperti ini bisa saja menjual, namun tone of voice untuk niche analisa saham yang digunakan adalah profesional. Sebabnya bisa jadi karena:

  • Orang-orang yang ada di industri ini adalah profesional
  • Orang-orang yang menulis buku seperti ini adalah profesional
  • Orang-orang yang membeli buku seperti ini ingin belajar dari sumber yang profesional

Jadi, ketika saya ingin menulis artikel tentang analisa saham, saya akan mengadaptasi tone of voice dari materi-materi populer.

Bukan berarti bahwa saya akan copy-paste mentah-mentah tone of voice tersebut. Hanya saja, saya tidak akan menggunakan gaya bahasa sembrono agar tak terlihat gila dan basa-basi.

Tone of Voice Curian

  • Sesuaikan dengan industri yang Anda tuju
  • Pelajari mindset orang-orang yang ada di industri tersebut
  • Posisikan diri Anda seperti orang-orang yang ada di Industri tersebut
Pelajari juga: Rahasia sukses jualan terletak pada cara Anda menggiring trafik untuk menekan tombol BELI. Cara ini bisa Anda peroleh dengan memahami psikologi jualan. Kami menggunakan teknik ini untuk menciptakan copywriting Anda hari ini. Klik di sini dan gemukkan omset Anda, SEKARANG!

Tone of Voice untuk B2B

Boleh dibilang, tone of voice untuk copywriting B2B termasuk yang paling membingungkan.

Kebanyakan orang dalam industri penjualan B2B (business to business) berpikir bahwa gaya bahasa yang digunakan haruslah super formal yang biasanya malah jadi membosankan.

Fakta ini tidak sepenuhnya benar.

Ketika menciptakan tone of voice untuk B2B, Anda:

  • Tidak harus bersikap formal dalam tulisan. Anda hanya diminta untuk bersikap profesional namun tetap terdengar seperti manusia umumnya.
  • Menulislah seperti Anda berbicara di kantor atau sales meeting.
  • Ketika ingin terdengar profesional, tulisan Anda malah terdengar seperti robot. Hal seperti ini malah membuat copywriting Anda jadi tak terbaca.
  • Jangan melulu mengutamakan sales pitch. Tawarkan value ke lawan bicara Anda.

Ketika saya menjelaskan aturan ini untuk menulis email B2B, kebanyakan mereka akan bilang seperti ini:

“Tapi Mbak, orang-orang di industri saya inginnya yang formal.”

Eh… No. They do not!

Coba beritahu saya, siapa yang ingin membaca email panjang yang formal? Apalagi jika orang-orang seperti ini mendapat 100++ email setiap harinya.

Meskipun B2B identik dengan industri profesional, mereka ingin email yang:

  • Menunjukkan suatu hal yang luar biasa menarik, atau
  • Menunjukkan suatu hal yang bisa membuat hidup mereka lebih baik atau lebih mudah.

Oleh sebab itu, bersikaplah profesional ketika menulis email atau sales letter untuk B2B dan tunjukkan kepribadian Anda dalam tulisan.

Teknik ini bisa membuat penjualan B2B Anda meningkat drastis!

Tone of Voice Perusahaan B2B

  • Informatif dan bermanfaat
  • Tulis kalimat seperti Anda berbicara
  • Jangan sampai tulisan Anda tersengar seperti robot yang membuat pembaca ngantuk
Tidak ada yang ingin membaca email ataupun sales letter yang jelas-jelas hanya ingin jualan. Klik di sini untuk menciptakan tone of voice sales letter Anda yang berhasil ‘memanaskan’ prospek sebelum Anda follow-up dengan sales call.

Tone of Voice Menulis Sesuai Kepribadian

Apa Anda termasuk orang yang humoris?

Kalau begitu, tulislah hal-hal yang lucu. Orang-orang humoris lain akan menyukai tulisan Anda.

So, perkenalkan. Nama saya Aicha Mahavikri. Meskipun tampak serius, saya termasuk orang yang sedikit nggak jelas. Kelebihan saya adalah memposisikan diri sesuai situasi dan kondisi. Kalau Anda temui saya in real life ketika sedang di rumah, mungkin tidak akan menyangka kalau saya orang yang menulis blog tentang copywriting dengan gaya semi-formal.

Tapi tak masalah.

Tujuan saya menulis di sini memang untuk berbagi dengan Anda sekalian yang terjun di dunia bisnis profesional.

Kepribadian yang saya tonjolkan ketika menulis artikel ini adalah pribadi saya yang professional, but fun.

So, bagaimana menciptakan tone of voice yang sesuai dengan kepribadian Anda?

Coba pikirkan, bagaimana orang-orang di bawah ini bisa terkenal:

  • Ria Ricis
  • Atta Halilintar
  • Abu Janda
  • Doni Siregar
  • Cinta Laura

Orang-orang di atas memiliki followers dan haters masing-masing.

Akan ada grup-grup tertentu yang membenci mereka, dan ada grup-grup tertentu yang mencintai mereka.

Orang-orang seperti ini membuat Anda setuju atau tidak setuju.

Namun satu hal yang pasti, orang-orang di atas keep the crowd awake alias menjaga publik tetap tersadar.

So, jangan mencoba mengubah kepribadian Anda dalam tulisan hanya karena satu orang berkata bahwa dia tidak menyukai aya tulisan Anda.

Tone of Voice Sesuai Kepribadian

  • Menulis sesuai kepribadian Anda adalah teknik copywriting paling mudah
  • Kadang Anda sedih, maka tuliskan copywriting dengan tone sedih
  • Kadang Anda senang, maka tuliskan copywriting dengan tone senang
  • Kadang Anda marah karena suatu hal, maka gunakan tone marah
  • Jadi diri Anda sendiri
Pelajari juga: Kombinasikan tone of voice dengan teknik NLP copywriting untuk mendapatkan sales yang meroket dalam waktu singkat.

Tone of Voice Favorit

“Mbak Aicha sukanya tone of voice yang mana?”

Ketika menulis, saya terbiasa menyebut diri sendiri dengan ‘saya’, bukan ‘aku’.

Tapi karena terlalu lama menghabiskan waktu sebagai gamer di masa remaja hingga dewasa, kadang saya menggunakan kata ‘gue’.

Gaya menulis yang saya suka, ya yang seperti ini. Informatif, semi-formal, dengan campuran bahasa Inggris.

Di sisi lain, karena saya juga menyediakan jasa menulis artikel untuk orang lain, tentu saya bisa menulis dengan mengadaptasi tone of voice orang lain.

Jangan salah. Saya tidak bisa meniru gaya tulis orang lain 100%. Yang saya lakukan adalah mengadaptasi dan memasukkan kepribadian saya ke dalam tulisan.

Hasilnya? Tentu tulisan original dan unik yang memiliki personality.

“Tapi Mbak, saya ini orangnya nggak menarik dan cuma bisa nulis hal-hal nggak menarik pula. Bosenin lah. Gimana caranya bisa nulis kayak mbak?”

Tentunya Anda memiliki kekurangan di sini. Kalau Anda tidak menarik atau kurang memiliki ide-ide brilian, sulit untuk bisa mendapatkan audience atau followers.

Tapi, Anda masih bisa menutupi kekurangan lain dengan cara:

#1. Memiliki informasi yang akurat

Kalau Anda memiliki akses orang dalam, tentu tulisan Anda akan tetap menarik dibaca. Sebab, informasi yang Anda berikan akan akurat dan penting untuk disimak.

#2. Mampu menganalisis data

Tak banyak orang yang bisa menganalisis dan menulis.

Kalau kelebihan Anda di bidang analisis data, presentasikan informasi Anda dalam bentuk grafik dan pasarkan pada orang-orang yang tepat.

#3. Bakat lain

Tulisan Anda mungkin garing, namun ternyata Anda memiliki skill di bidang desain grafis.

Kalau Anda sematkan desain yang menakjubkan, orang-orang masih tetap akan memperhatikan Anda meskipun tulisan Anda payah.

#4. Jangan malu karena Anda membosankan

Kalau tone of voice Anda ambyar dan membosankan, maka orang lain yang juga ambyar dan membosankan akan menikmati tulisan Anda!

Cara menulis paling baik adalah menulis sesuai dengan kepribadian Anda.

Tak perlu jadi orang lain, kecuali kalau Anda memang bisa mengadaptasi gaya tulisan orang lain. Hal seperti ini biasanya, malah terdengar kaku dan well… ambyar.

So, kenapa tak sekalin saja jadi ambyar yang original a.k.a diri sendiri?

Pelajari juga: Kesulitan mencari ide untuk menulis artikel? Simak 74 cara membuat judul artikel yang bisa langsung Anda contek hari ini. Halal!

Troglodytes Test

“Apa ini, Mbak? Typo kah? Kok parah banget”

No, no, no. 

Troglodytes test adalah tes manusia gua.

Diambil dari kata ‘troglodytes’ yang berarti manusia gua dan ‘test’ yang berarti tes.

Tes ini saya gunakan untuk membuat copywriting dan artikel SEO yang ditujukan untuk pembaca umum.

Teknik troglodytes test ini bertujuan untuk menguji coba tulisan yang saya buat.

Apakah tulisan saya menarik, membosankan, atau bisa membuat orang-orang tetap membaca sampai akhir?

Jawabannya ada di tes ini.

The Troglodytes Test:

  • Berpura-puralah menjadi manusia gua yang rada pea dengan attention span rendah,
  • Baca tulisan Anda dari awal. Kalau Anda tidak bisa mengikuti tulisan Anda sampai akhir, maka tulisan Anda payah,
  • Tulis ulang atau hapus paragraf yang membuat Anda kehilangan konsentrasi ketika baca.

Tips Menemukan Tone of Voice Anda untuk Copywriting

Entah untuk buka jasa tulis artikel, jasa artikel SEO, ngeblog, atau bahkan copywriting jualan, tone menentukan keberhasilan Anda menyampaikan informasi pada pembaca dan berhasil nyantol di kepala mereka.

Berikut ini beberapa tips jika Anda ingin menemukan tone of voice khas Anda:

  • Konsumsi kafein kalau Anda suka. Bisa dari teh hitam, teh hijau, atau kopi. Kafein menjaga otak Anda melek dan bahagia.
  • Jangan menulis ketika Anda lelah, marah, jengkel, atau sakit hati. Kecuali kalau tone ini yang Anda tuju.
  • Tentukan GOAL tulisan Anda. Misalnya saja agar pembaca mau men-download e-book, atau menghubungi Anda via WhatsApp.

Nah, artikel tentang tone of voice dalam copywriting ini berakhir di sini.

Tak terasa sudah lebih dari dua jam saya menulis ini. Kalau Anda menyukai artikel ini dan mendapat manfaat dari sini, bagikan ke tim marketing atau kawan-kawan seperjuangan bisnis Anda.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, ya?

Pelajari juga: Anda pun bisa menjadi copywriter dengan mengikuti panduan copywriting ini. Kalau bisnis Anda masih bertumbuh dan belum memiliki tim marketing sendiri, Anda wajib tahu apa itu copywriting.
3.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Komentar
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments